Sabtu, 15 Oktober 2011

KTI TB PARU


BAB 1
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu unsur dasar kesejahteraan keluarga. Dalam mem- perbaiki tingkat sosial ekonomi masyarakat, kesehatan keluarga merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, karena keluarga sehat akan menghasilkan anak-anak yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas. Keluarga merupakan suatu unit terkecil dari masyarakat, terdiri dari kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga karena ikatan darah perkawinan atau adopsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan/ keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota-anggota keluarga lain, dan keluarga- keluarga yang ada di sekitarnya, termasuk salah satu penyakit yang mengancam kesehatan keluarga adalah penyakit TB Paru. (Komang Ayu Henny, 2010 hal: 2).

Tuberculosis paru masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kemiskinan, malnutrisi, gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan lain-lain. Tuberculosis paru merupakan penyakit menular dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan berulang kali, artinya walaupun seorang sudah pernah menderita tuberculosis paru, orang tersebut tidak kebal padanya dan mungkin akan terserang lagi terutama apabila daya tahan tubuhnya lemah.

Tuberkulosis merupakan  penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala bervariasi. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menyerang organ paru-paru di bandingkan bagian lain tubuh manusia. Tempat masuk kuman ini adalah melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi TB Paru terjadi melalui udara yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi (Amin, 2006 ).

Menurut WHO (2005), secara global terdapat 8,9 juta kasus TB dan kira-kira 1,6 juta atau 27 per 100 ribu orang meninggal karena penyakit TB. Jika penyakit TB ini tidak diobati, setiap penderita TB aktif akan menularkan ke 10 orang per tahun. (http/www .wikipedia.or.id, diperoleh tanggal 17 Mei 2011). Di Indonesia, TBC merupakan masalah kesehatan baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Penduduk lebih dari 200 juta orang, Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110/100.000 penduduk. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24% dari jumlah penduduk (http// Wikipedia.or.id. diperoleh tanggal 17 Mei 2011).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2008 terdapat 30.067 penderita TB paru dengan cakupan penanganannya sebanyak 68,7%, dengan tingkat kesembuhan 28,24%. Pada tahun 2008 juga tercatat sebanyak 360 penderita TB meninggal dunia. Pada tahun 2009 angka CDR masih tinggi yaitu sebesar 69%. Di Kabupaten Ciamis dengan merujuk data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis tahun 2009 menunjukkan bahwa angka CDR di Kabupaten Ciamis yaitu sebesar 56,5%. Kasus TB paru dengan BTA positif yaitu 978 orang dari jumlah suspek 11.201 orang      (Profile Dinkes Kabupaten Ciamis, 2009 diakses (http://www.scribd. Com /doc / 3540 5622/Bab-1 tanggal 22 Mei 2011). Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintahan swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000/tahun. Sedangkan data yang diperoleh di RSUD Kabupaten Bekasi periode Januari 2011 sampai dengan Juni 2011 ditemukan insiden penyakit Tuberculosis Paru berjumlah 96 jiwa dari pasien yang dirawat di R. Penyakit Dalam.

Tuberkulosis paru merupakan masalah kesehatan yang akan menjadi masalah yang lebih besar jika tidak di tanggulangi sejak dini. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan mendapatkan pengobatan dan pencegahan penularan. Penyakit TB Paru apabila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi dini yang membahayakan seperti pleuritis, efusi pleura, emfisiema, laringitis sampai menjalar ke organ lain seperti usus, tulang dan otak. Komplikasi lanjut seperti obstruksi jalan napas, kerusakan parenkim berat, amiloidosis, kanker paru dan sindrom gagal napas dewasa. Untuk mencegah komplikasi tersebut maka dibutuhkan peran dan fungsi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dengan benar meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, antara lain dengan memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatan status kesehatan klien, memeriksakan kondisi secara dini, memberikan obat anti mikroba sesuai dengan jangka waktu tertentu untuk mengobati penyebab dasar dan dalam perawatan diri klien secara optimal, sehingga muncul pentingnya asuhan keperawatan dalam menanggulangi klien dengan tuberkulosis paru yang dirawat diruang Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Bekasi.  

Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk memilih judul makalah ilmiah “ Asuhan Keperawatan pada klien Tn. O dengan Tuberkulosis Paru di Ruang Penyakit Dalam LT. III RSUD Kabupaten Bekasi”.

B.   Tujuan Penulisan
1.  Tujuan umum
Mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis Paru pada klien dan keluarga dengan pendekatan proses keperawatan yang komprehensif meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan.

2.  Tujuan Khusus
     Diharapkan mampu:
     a.  Melakukan pengkajian pada klien dengan Tuberculosis Paru.
     b.  Menentukan masalah keperawatan pada klien dengan Tuberculosis Paru.
c.       Merencanakan tindakan keperawatan klien dengan Tuberculosis Paru.
d.      Melaksanakan tindakan keperawatan klien dengan Tuberculosis Paru.
e.       Melakukan evaluasi keperawatan klien dengan Tuberculosis Paru.
f.       Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus pada klien dengan Tuberculosis Paru.
g.      Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat, serta mencari solusi/alternative pemecahan masalah yang terjadi pada klien dengan Tuberculosis Paru
h.      Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien dengan Tuberculosis Paru.

C.   Ruang Lingkup
Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan tempat praktek, dalam hal ini penulis membatasi lingkup bahasan pada satu kasus yaitu Asuhan Keperawatan pada Tn.O dengan Tuberculosis Paru selama 3 hari dari tanggal 11 Juni sampai dengan 13 Juni 2011 bertempat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

D.   Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang berorientasi saat ini, dengan mengambil satu kasus dan pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1. Studi kepustakaan yaitu: membaca bahan ilmiah yang berhubungan dengan judul makalah yang diambil dari bermacam-macam sumber.
  2. Studi Kasus yaitu: melakukan pengkajian pada klien dengan kasus Tuberculosis Paru,    proses pengkajian data yang dilakukan dengan cara: pemeriksaan fisik untuk mendapatkan data tentang keadaan klien yang objektif dan actual dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
3. Wawancara: dilakukan dengan klien, keluarga, serta berdiskusi dengan perawat ruangna dan tim   
     kesehatan lain untuk mendapatkan data yang subjektif dan objektif.
  4.  Observasi: dilakukan guna mendapatkan data secara objektif dan subjektif
  5. Studi dokumentasi: dengan mempelajari kasus klien, catatan keperawatan, catatan medis, program pengobatan klien, hasil laboratorium dan rontgen.

E.   Sistematika Penulisan
Sistematika yang digunakan dalam penyusunan makalah ilmiah ini adalah sebagai berikut: BAB I: Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode penulisan, dan sistematika penulisan, BAB II: Landasan teori yang terdiri dari konsep kesehatan meliputi; pengertian, patofisiologi terdiri dari etiologi, manifestasi klinis, proses perjalanan penyakit, komplikasi, serta  penatalaksanaan medis, BAB III: Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan, BAB IV: Pembahasan yaitu membandingkan, menganalisa antara teori dan kasus termasuk faktor pendukung, faktor penghambat, dan penyelesaiannya mulai dari pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, BAB V: Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.






BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.      Definisi   
Tuberkulosis paru (TB) adalah suatu penyakit infeksi kronik yang sudah sangat lama dikenal pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal di daerah urban, lingkungan yang padat, dibuktikan dengan adanya penemuan kerusakan tulang vertebra otak (Amin 2006 : hal 242). Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis ( A.Sylvia 2006 : hal 852). Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi terutama yang menyerang parenkim paru (Smeltzer 2002 : hal 584).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit tuberkulosis paru (TB Paru) adalah penyakit infeksi pernafasan kronik menular terutama yang menyerang parenkim paru, penyakit ini  disebabkan oleh kuman yaitu Mycobakterium Tuberkulosis

B.       Etiologi
Penyebab penyakit Tuberkulosis adalah Mycobakterium Tuberkulosa. Bakteri ini mempunyai ciri sebagai berikut : bakteri berbentuk basil / batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, bersifat aerob, terdiri atas asam lemak (lipid) peptidoglikan dan arabionomanan, hidup berpasangan atau berkelompok, tahan asam, dapat bertahan hidup lama pada udara kering maupun pada udara dingin dan suasana lembab dan gelap dapat bertahan sampai berbulan-bulan, mudah mati dengan sinar ultraviolet dan dapat tahan hidup lama pada suhu kamar, sudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 800C dan 20 menit pada suhu 600C), penularan tuberkulosis terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara.



C.   Patofisiologi
1. Proses perjalanan penyakit
Kuman Mycobacterium tuberkulosis masuk melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan (GI), dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi TB terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Partikel dapat masuk ke dalam alveolar, bila ukuran vartikel kurang dari 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi terlebih dulu oleh neutropil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan dibersihkan oleh makrofag keluar dari cabang trakea bronkhial bersama gerakan sillia dengan sekretnya. Bila kuman menetap di jaringan paru maka ia akan tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk  ke organ tubuh lainnya.

Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil; gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, biasanya di bagian bawah lobus atas paru atau di bagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi, dan timbul pneumonia akut. Jika kuman sudah menjalar ke pleura maka akan terjadi efusi pleura.

Kuman yang masuk ke dalam saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit secara otomatis kuman masuk ke dalam vena dan menjalar keseluruh organ, seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke dalam arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran keseluruh bagian paru dan menjadi TB milier. Sarang primer akan timbul peradangan getah bening menuju hilus  (limfangitis lokal), dan diikuti pembesaran getah bening hilus (limfangitis regional). Sarang primer limfangitis lokal serta regional menghasilkan komplek primer (range).  Proses sarang paru ini memakan waktu 3–8 minggu.

   2. Manifestasi klinik
Tuberkulosis adalah suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala sisitemik:
a.  Gejala respiratorik, meliputi:
1). Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
2). Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah.  Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
3). Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
4). Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.
b. Gejala sistemik, meliputi:
Demam.
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek.
c. Gejala sistemik lain.
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia.

  3. Komplikasi
Penyakit tuberculosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi, yaitu :
a. Komplikasi dini
1).  Pleuritis                :   Inflamasi kedua lapisan pleura.
2).  Efusi pleura           :   Memecahnya kavitas TB dan keluarnya udara atau cairan  masuk kedalam antara paru dan dinding dada.
3).  Emfisema              :   Pengumpulan cairan puluren (pus) dalam kavitas pleural,  cairan yang dibentuk akibat penyakit paru pada orang dengan usia lebih lanjut.
4). Laringitis               :   Inflamasi pada laring yang di sebabkan melalui peredaran darah.
5).  Menjalar ke organ lain seperti usus, tulang dan otak.

b.  Komplikasi lanjut
1. Obstruksi jalan nafas atau SPOT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis).
2.  Kerusakan parenkim berat seperti fibrosis paru, kor pulmonal disebabkan oleh tekanan balik akibat kerusakan paru.
3.  Amiloidosis.
4.  Karsinoma paru, telah terbentuknya kavitas dari proses infeksi.
5.  Sindrom gagal nafas dewasa.

D.   Penatalaksanaan Medis
1.      Tes Diagnostik
a.    Kultur sputum menunjukan positif untuk Mycobacterium Tuberculosis pada tahap aktif penyakit.
b.    Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) menunjukan positif untuk basil asam-cepat.
c.    Tes kulit (PPD, Mantoux, potongan vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukan infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna  pada klien secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikrobakterium yang berbeda.
d.    ELISA/western Blot : Dapat menyatakan adanya HIV.
e.    Foto torak : Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effuse cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area fibrosa.
f.     Histologi atau kultur jaringan termasuk pembersihan gaster ; Urine dan cairan serebrospinal, biopsi kulit) : positif untuk Mycobacterium Tuberculosis.
g.    Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB ; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
h.    GDA : Dapat normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.
i.      Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru, dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
2.   Terapi
Obat Anti Tuberculosis (OAT).
OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ke tiga. Tujuan pemberian OAT antara lain :
a.  Membuat konfersi sputum BTA (+) menjadi (-) secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid
b.      Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi
c.       Menghilangkan/ mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis
d.      Memutuskan mata rantai penularan
e.       Mencegah kematian

Pengobatan TB terutama berupa pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu lama. Obat-obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Petunjuk pengobatan penyakit dan infeksi TB, yaitu :
a)      Regimen obat 6 bulan yang terdiri dari isoniazid (hidrazida asam lisonikotinat [INH]), rifampisin, dan pirazinamid diberikan selama 2 bulan, kemudian diikuti dengan INH dan rifampisin selama 4 bulan adalah regimen yang direkomendasikan untuk terapi awal TB pada klien yang organismenya sensitif terhadap pengobatan.
b)      INH dan rifampisin regimen 9 bulan sensitif pada orang yang tidak boleh atau tidak bisa mengonsumsi pirazinamid. Etambutol (atau streptomisin pada anak terlalu muda harus diawasi ketajaman penglihatannya). Bila resistensi INH telah terlihat, rifampisin dan etambutol harus diminum secara terus menerus minimal selama 12 bulan.
c)      Mengobati semua klien dengan DOT adalah rekomendasi utama.
d)     TB resisten banyak obat (MDR TB) yang resisten terhadap INH dan rifampisin, sulit diobati.
e)      Anak-anak harus diberikan regimen yang sama dengan orang dewasa, dengan dosis obat yang disesuaikan.
f)       INH dan rifampisin regimen 4 bulan, lebih cocok bila ditambah dengan pirazinamid untuk 2 bulan pertama, regimen ini direkomendasikan untuk orang dewasa dengan TB aktif dan untuk orang dengan pulasan dan biakan negatif, bila terdapat sedikit kemungkinan resistensi obat.

Faktor penting untuk keberhasilan pengobatan adalah ketaatan klien dalam meminum regimen obat. DOT (Directly observered treatment) adalah satu cara untuk memastikan bahwa klien taat menjalankan pengobatan.

E.    ASUHAN KEPERAWATAN
 1. Pengkajian
a.       Pernafasan
Gejala : batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek
Tanda : peningkatan frekuensi pernafasan
b.      Aktifitas / istirahat
Gejala : kelelahan otot dan sesak , nafas pendek karna kerja
Tanda : kelelahan otot dan sesak
c.       Integritas Ego
Gejala : adanya factor stress lama
Tanda : ketakutan mudah terangsang
d.      Makanan / cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, penuruna berat badan.
           Tanda : turgor kulit kurang elastis, kering,kulit bersisik, kehilangan kekuatan otot,kehilangan lemak subkutan
e.       Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri dada meningkat karma batuk berulang
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, gelisah
f.       Keamanan
Gejala : adanya kondisi penekanan imun
Tanda : demam berdarah atau hipertermi

2.  Diagnosa keperawatan
  1. Infeksi, resiko tinggi b/d pertahanan primer tidak adekuat, penurunan kerja silia/ statis sekret dibuktikan oleh tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala yang membuat diagnosa adekuat
  2. Bersihan jalan nafas, tidak efektif b/d sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, Dibuktikan oleh : frekuensi pernafasan, irama, keadaan tak normalbunyi nafas tak normal (ronkhi, mengi)
  3. Pertukaran gas, kerusakan yang brhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, sekret kental
Dibuktikan oleh : tidak dapat diterap kan adanya tanda dan gejala
  1. Nutrisi, perubahan kurang dari kebutuhan tubuh b/d kelemahan, sering batuk/produksi sputum, dispnea anoreksia
Dibuktikan oleh : berat badan dibawah 10% s/d 20%, ideal untuk bentuk tubuh dan berat tonus otot buruk
  1. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pengtetahuan b/d keterbatasan kongnitif tidak akurat/tidak lengkap informasi yang ada
Dibuktikan oleh : permintaan informasi kurang atau tidak akurat mengikuti instruksi/perilaku .





3.  Perencanaan Keperawatan
a. Infeksi, resiko tinggi(penyebaran/aktivasi ulang) berhubungan dengan pertahanan primer tidak  adekuat, penurunan, penurunan kerja silia/stasis sekret, kerusakan jaringan, penekanan proses inflamasi, malnutrisi, terpajan lingkungan, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : 1. Mengidentifikasi intrervensi untuk mencegah menurunkan resiko 
                         penyebaran infeksi
                        2. Nilai Lab dalam rentang normal.
Intervensi :
Mandiri
1.      Kaji patologi penyakit (aktif atau fase tidak aktif).
Rasional : Membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang/komplikasi.
2.      Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh : anggota rumah, sahabat karib atau teman
Rasional : orang-orang yang terpanjan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran / terjadinya infeksi.
4.      Anjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah.
Rasional : prilaku yang digunakan untuk mencegah penyebaran infeksi.
5.      Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, contoh : masker atau isolasi pernafasan
Rasional : dapat membantu menurunkan rasa terisolasipasien dan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular
6.      Awasi suhu sesuai indikasi
Rasional : reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut
7.      Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis, contoh Tahanan bawah(alkoholisme, malnutrisi, bedah bypass intestinal); gunakan obat penekan imun.
Rasional : Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan menghindari / menurunkan insiden eksaserbasi.
8.      Tekanan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
Rasional : priode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoteraphy awal; tetapi dengan adanya ronga / penyakit luas sedang. Resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
9.      Kaji pentingnyqa mengikuti dan kultur, ulang secara periodik terhadap sputum untuk lamanya terapi
Rasional : alat dalam pengawasan efek dan keefektifan obat dan respon pasien terhadap terapi
10.  Dorong memilih/menerima makanan siang
Rasional : adanya anoreksia dan malnutrisi sebelumnya merendahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mengangu penyembuhan
Kolaborasi
11.  Berikan agen antiinfeksi sesuai indikasi,contoh : obat utama: Isoniazid ( INH etambutol;  Rifampin( RMP/ Rifadin).
Rasional : Kombinasi agen antiinfeksi digunakan, contoh 2 obat primer atau satu primer tambah 1 dan obat sekunder. INH biasanya obat pilihan untuk pasien infeksi dan pada resiko terjadi TB. Etambutol harus diberikan bila sistem saraf pusat atau tak terkompikasi.
12.  Pirazinamida (PZA/Aldinamide); para-amino salisik (PAS); streptomisin, sikloserin.
Rasional : Ini obat sekunder diperlukan bila infeksi resisten terhadap atau tidak toleran obat primer.
13.  Awasi pemeriksaan laboratorium
Rasional : Pasien yang mengalami 3 usapan negative, perlu menaati program obat, dan asimtomatik akan diklasifikasikan tak-menyebar.
14.  AST/ALT
Rasional : Efek merugikan terapi obat termaksud hepatitis.
15    Laporkan ke Departement Kesehatan Lokal.
Rasional : Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran infeksi.

b.  Bersihan jalan nafas, takefektif berhubungan dengan sekret kental/darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama...x24 Jam diharapkan bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria Hasil : 1.Mempertahankan jalan nafas klien.
      2.Mengeluarkan sekret tanpa bantuan,
    3.Menunjukan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan nafas
      4.Berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi :
Mandiri
1.      Kaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan   penggunaan otot aksesoris.
Rasional : penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelaktasis.
2.      Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ bntuk afektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Rasional : pengeluaran sulit bila sekret sangat  tebal( mis : efek infeksi dan/ atau tidak adekuat hidrasi).
3.      Berikan pasien posisi semi fowler tinggi, bantu bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam.
Rasional : posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya    pernafasan.
4.      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea ; penghisapan sesuai keperluan.
Rasional : Mencegah obstruksi/ aspirasi. Penghisapan dapat diperlukan bila pasien tak mampu mengeluarkan sekret.
5.      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
Rasional : Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikelurkan.
Kolaborasi
6.      Lembabkan udara/ oksigen inspirasi.
Rasional : Mencegah pengeringan membrane mukosa; membantu pengenceran secret.
7.      Beri obat- obat sesuai indikasi; Agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid.
Rasional : Agen mukolitik menurunkan kekentalan secret paru, bronkodilator meningkatkan ukuran lumen percabangan trakeobronkial, sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara, kortikosteroid adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila respon inflamasi mengancam hidup.
8.      Bersiap membantu intubasi darurat.
Rasional : Intubasi diperlukan pada kasus jarang bronkogenik TB dengan edema laring/perdarahan paru akut.

c.  Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, sekret kental, kerusakan membran alveolar-kapiler, edema bronkial.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 Jam diharapkan gangguan pertukaran gas teratasi.
Kriteria hasil : 1. Melaporkan tidak adanya penurunan dipnea.
                             2.Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat      
 3. GDA dalam rentang normal
 4. Bebas dari gejala distres pernafasan
Intervensi :
Mandiri
1.      Kaji dipsnea, takipnea, tak normal/ menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan.
Rasional : efek pernapasan dapat dari ringan sampai dipsnea berat sampai distres pernafasan
2.      Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran
Rasional : akumulasi sekret/ pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan
3.      Tunjukan/dorong bernafas bibir selam ekshalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
Rasional : Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/penyempitan jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melaui paru dan menurunkan nafas pendek.
4.      Tingkatkan tirah baring/ batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
Rasional : Menurunkan konsumsi oksigen/ kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Kolaborasi
5.      Awasi seri GDA/ nadi oksimetri
Rasional : Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/ saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program terapi.
6.      Berikan oksigen tambahan yang sesuai
Rasional : alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi terhadap penurunan ventilasi/ menurunnya permukaan alveolar paru



d.  Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan, sering batuk/ produktif, anoreksia, ketidakcukupan sumber keuangan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama..x24Jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :   1. Menunjukan BB meningkat mencapai tujuan.
                         2. Nilai laboratorium normal.
                         3. Bebas tanda malnutrisi.
Intervensi :
Mandiri
1.      Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare.
Rasional : berguna untuk mengidentifikasi derajat/ luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
2.      Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai/ tak disukai
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/ kekuatan khusus
3.      Awasi masukan/pengeluaran dan BB secara periodik
Rasional : Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
4.      Selidiki anoresia, mual, muntah, catat kemungkinan hubungan dengan obat. Awasi frekuensi volume, konsistensi feses.
Rasional : dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan/  penggunaan nutrien
5.      Dorong dan berikan periode istirahat sering
Rasional : Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
6.      Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan
Rasional : Menurunkan rasa tak enak karna sisa sputum atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.
7.      Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Rasional : Memasukan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/ kebutuhan energi dari makanan banyak dan menurunkan irigasi gaster.
8.      Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan membagi dengan pasien kecuali kontraindikasi.
Rasional : Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural.
Kolaborasi
9.      Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional : Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
10.  Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/sesudah makan.
Rasional : Dapat membantu membatu menurunkan insiden mual dan muntah sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernafasan pada perut yang penuh.
11.  Awasi pemeriksaan laboratorium, BUN,protein serum dan albumin.
Rasional : Nilai rendah menunjukan malnutrisi dan membantu kebutuhan intervensi/program terapi.
12.  Berikan antipiretik tepat
Rasional : Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan juga konsumsi kalori

e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan berhubungan dengan kurang terpajan pada interpretasi informasi, keterbatasan kognitif, tak lengkap informasi yang ada.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama..x24 jam diharapkan meningkatkan pengetahuan klien.
Kriteria Hasil : 1. Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis, kebutuhan pengobatan.
       2. Melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan, 
           menurunkan resiko pengaktifan ulang TB.
Intervensi
Mandiri
1.      Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan.
Rasional : Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan tingkatkan pada tahapan individu.
2.      Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat.
Rasional : Dapat menunjukan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut.
3.      Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat.
Rasional : Memenuhi kebutuhan metabolik membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat membantu mengencerkan sekret.
4.      Berikan intruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat.
Rasional : Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengiat sejumlah besar informasi.
5.      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama.
Rasional : Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.
6.      Kaji potensial efek samping pengobatan.
Rasional ; Mencegah/menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program.
7.      Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alkohol sementara minum INH.
Rasional : Kombinasi INH dan alkohol telah menunujakan peningkatan insiden hepatitis
8.      Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memulai dan kemudian tiap bulan selama minum etambutol.
Rasional : Efek samping untuk menurunkan penglihatan; tanda awal menurunkan kemampuan untuk melihat warna hijau.
9.      Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsepsi/peningkatan ansietas.
10.  Dorong untuk tidak merokok.
Rasional : Meskipun merokok tidak merangsang berulang TB, tetapi meningkatkan disfungsi pernafasan.
11.  Kaji bagaimana TB ditularkan.
Rasional : pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan/reaktivitas ulang. 

4.  Pelaksanaan Keperawatan
Implementasi adalah langkah keempat dalam tahapan proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan/tindakan keperawatan yang telah direncanakan ( A.Aziz Alimul Hidayat, 2004 ).
Tahap pelaksanaan Uraian persiapan meliputi :
a.  Review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap perencanaan.
Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, criteria yang harus dipenuhi yaitu sesuai dengan rencana tindakan, berdasarkan prinsip ilmiah, ditujukan pada individu sesuai dengan kondisi klien, digunakan untuk menciptakan lingkungan yang teraupetik dan aman, penggunaan sarana dan prasaran yang memadai.
b.  Menganalisa pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan.
     Perawat harus mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan tipe  yang diperlukan untuk tindakan keperawatan. Hal ini akan menentukan siapa orang yang terdekat untuk melakukan tindakan.
c.  Mengetahui komplikasi atau akibat dari tindakan keperawatan yang dilakukan.
Prosedur tindakan keperawatan mungkin berakibat terjadinya resiko tinggi kepada klien. Perawat harus menyadari kemungkinan timbulnya komplikasi sehubungan dengan tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan. Keadaan yang demikian ini memungkinkan perawat untuk melakukan pencegahan dan mengurangi resiko yang timbul.
d.  Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan dalam implementasi.
Dalam mempersiapkan  tindakan keperawatan, hal-hal yang berhubungan dengan tujuan harus dipertimbangkan yaitu waktu, tenaga dan alat.
e.  Mempersiapkan lingkungan yang kondusif sesuai dengan tindakan yang dilakukan.
Keberhasilan suatu tindakan keperawatan sangan ditentukan oleh perasaan klien yang aman dan nyaman. Lingkungan yang nyaman mencakup componen fisik dan psikologis.
1).Tindakan keperawatan dibedakan atas :
a.  Independen atau mandiri
Yaitu statu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
b.  Interdependen atau kolaborasi
Yaitu statu kegiatan yang memerlukan statu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya ahli Gizo, fisioterapi, dokter dan sebagainya.
2). Pendokumentasian
Pada tahap pendokumentasian hal yang harus dicatat hádala tindakan yang telah dilakukan, waktu, tanggal, jam dan paraf perawat yang melakukan.

5.  Evaluasi Keperawatan
1. Pengertian.
Evaluasi merupakan langkah ahir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak

2. Jenis evaluasi
a. Evaluasi proses (formatif)
Tipe evaluasi ini adalah aktifitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan, evaluasi proses harus dilakukan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan.
b. Evaluasi hasil (sumatif).
Evaluasi hasil adalah perubahan prilaku atau status kesehatan klien pada ahir tindakan keperawatan secara sempurna.
c. Dokumentasi.
Perawat mendokumentasikan hasil yang telah atau belum dicapai pada “medical record” pengunaan istilah yang tepat perlu ditekankan pada penulisannya untuk menghindari salah persepsi pemelasan dalam menyusun tindakan keperawatan lebih lanjut sudah tercapai / tidak evaluasi dicatat bentuk S,O,A,P















BAB III
TINJAUAN KASUS

Dalam tinjauan kasus, penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan pada Tn. O dengan Tuberkulosis Paru di Ruang Penyakit Dalam “RSUD Kabupaten Bekasi”. Asuhan keperawatan berlangsung selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 11 Juni-13 Juni 2011. Untuk melengkapi data, penulis melakukan wawancara dengan klien dan keluarga, perawat yang bertugas, serta dari catatan medis klien.

1.    Pengkajian
Pengkajian adalah data dasar sesuai dengan kondisi klien, penulis melakukan pengkajian pada tanggal 11 Juni 2011. Klien masuk pada tanggal  06 Juni 2011 diruang Penyakit Dalam dengan No Register 170403-25 dengan diagnosa medis Tuberkulosis Paru. Adapun data yang diperoleh sebagai berikut :

Klien bernama Tn. O berjenis kelamin laki-laki, berumur 43 tahun, status perkawinan duda, beragama Islam, suku bangsa Melayu, pendidikan terakhir SD, bahasa yang digunakan yaitu bahasa Indonesia, Tn. O bekerja sebagai Petani, beralamat di Kp. Rawa Kuda RT 006/03, Desa Karang Harum, Kedung Waringin. Sumber biaya diperoleh dari Jamkesmas, informasi ini didapatkan dari klien, kelurga, buku status, serta dari perawat ruangan.

Riwayat Kesehatan Sekarang: keluhan utama yang dialami saat ini adalah sesak nafas. Faktor pencetus klien mengatakan penumpukan secret akibat tidak dapat mengeluarkan sekret. Timbulnya keluhan yaitu  secara bertahap, upaya mengatasi istirahat. Klien mempunyai riwayat penyakit sebelumnya yaitu Tuberkulosis Paru. Klien tidak mempunyai alergi terhadap obat, makanan, binatang dan lingkungan.


Riwayat kesehatan keluarga(genogram dan keterangan tiga generasi dari klien)
 








                             
 


 KETERANGAN :


                                                :    Laki- Laki
                                                :    Perempuan
                                                :   Garis Keturunan
                                                :   Tinggal Serumah
                                                :    Meninggal
                                                :    Klien

Tidak ada riwayat penyakit yang diderita keluarga yang menjadi faktor resiko. Tn.O mempunyai lima orang anak, tiga berjenis kelamin laki laki dan dua berjenis kelamin perempuan. Sekarang klien tinggal dengan putra ketiganya. Orang terdekat dengan klien adalah putra ketiganya, pola komunikasi dalam keluarga sangat terbuka, pembuat keputusan dalam keluarga adalah klien sendiri.  Kegiatan kemasyarakatan yang diikuti klien tidak ada. Dampak penyakit klien terhadap keluarga adalah tidak ada. Tidak ada masalah yang mempengaruhinya. Mekanisme koping yang digunakan klien adalah tidur, persepsi klien terhadap penyakitnya tentang hal yang dipikrkan saat ini adalah klien ingin cepat sembuh dan kembali ke rumah. Harapan setelah menjalani perawatan adalah sembuh dan kembali kerumah dengan sehat dan tidak kambuh lagi. Sistem nilai kepercayaan, nilai yang bertentangan dengan kesehatan tidak ada, aktivitas agama/kepercayaan adalah sholat. Kondisi lingkungan rumah yang mempengaruhi kesehatan saat ini tidak ada. Kondisi Lingkungan cukup baik, jendela terbuka cukup, pembuangan cukup lancar dan penerangan cukup baik.

Dirumah, sebelum sakit klien biasa makan 3 x/hari dengan nafsu makan baik, porsi makan yang dihabiskan l porsi setiap kali makan. Tidak ada makanan yang tidak disukai dan tidak ada makanan yang membuat klien alergi serta tidak ada makanan pantangan. Klien tidak pernah diet terhadap makanan, dan tidak pernah menggunakan obat-obatan atau pun alat bantu pada saat makan. Sedangkan dirumah sakit frekwensi makan klien 3 x/ hari dengan nafsu makan kurang baik, porsi makan yang dihabiskan sebanyak ½ porsi. Di rumah sakit daging adalah makanan yang tidak disukai dan tidak ada makanan yang membuat alergi, serta tidak ada makanan yang dipantang. Makanan diet yang diberikan pada klien adalah diet ML, serta tidak menggunakan alat bantu pada saat makan.

Dirumah, sebelum sakit klien BAK 3–4 kali/ hari dengan warna kuning jernih dan tidak mempunyai keluhan saat BAK. Frekwensi klien BAB l kali dalam sehari dengan pagi hari, berwarna kuning, kosistensi setengah padat, berbau  khas. Pada saat BAB klien tidak merasakan adanya keluhan dan klien juga tidak menggunakan laxatif sebagai pencahar. Sedangkan dirumah sakit, klien BAK sebanyak 6–7 x/ hari ± 1500 ml berwarna kuning jernih, dan tidak merasakan adanya keluhan saat BAK, serta tidak menggunakan alat bantu seperti kateter. Di rumah sakit klien BAB 1x/hari waktunya juga tidak tentu kadang pagi, siang, maupun malam, feses berwarna kuning dengan kosistensi lunak cair, berbau khas.   

Dirumah, sebelum sakit klien mandi 2x dalam sehari pada waktu pagi dan sore hari, dengan menggunakan sabun mandi serta menggosok gigi 2x sehari pada saat yang bersamaan dengan waktu mandi dan malam hari, klien mencuci rambut 3x /minggu. Dirumah sakit klien juga mandi 1x sehari pada waktu pagi hari dan menggosok gigi saat padi hari, dirumah sakit klien tidk mencuci rambutnya. Pola kebiasaan klien tidur waktu dirumah yaitu selama 5-6 jam/ hari pada malam hari dan 2-3 jam pada tidur siang. Klien tidak mempunyai kebiasaan sebelum tidur. Sedangkan selama dirumah sakit klien tidur juga tidur 2-3 jam/ hari pada malam hari dan 3-4 jam pada siang hari.

Dalam kehidupan sehari-hari klien adalah seorang kepala keluarga dan klien bekerja sebagai petani, tidak pernah olahraga dan tidak ada keluhan dalam beraktifitas. Sedangkan pada saat dirumah sakit klien mempunyai juga tidak mempunyai keluhan dalam beraktifitas. Klien mempunyai kebiasaan merokok, frekuensi sering dengan jumlah 1 bungkus/hari,lama pemakaian +10 tahun. Klien tidak mempunyai riwayat minum-minuman.
 
Berat badan klien saat sakit 50 kg, dan sebelum sakit klien mengatakan berat badannya 55 kg dengan tinggi badan l72 cm. Tekanan darah klien l20/70 mmHg, nadi 93 x/ menit, frekwensi napas klien 28 x/ menit, dengan suhu tubuh 37° C, keadaan umum sakit sedang dan tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening. Posisi mata klien simetris dengan kelopak mata, pergerakan bola mata, dan kornea mata dalam keadaan normal. Konjungtiva klien anemis, sklera ikterik, pupil klien isokor, serta tidak ada kelainan pada otot-otot mata, reaksi mata terhadap cahaya juga baik, fungsi penglihatan klien baik. Di mata dan sekitarnya tidak ditemukan adanya tanda-tanda peradangan dan klien tidak menggunakan lensa kontak.

Daun telinga klien normal dan tidak mempunyai serumen, kondisi telinga tengah juga baik, serta tidak ada cairan dari telinga. Klien juga mengatakan tidak merasakan adanya perasaan penuh dan tinitus ditelinga. Fungsi pendengaran klien normal sehingga tidak memerlukan alat bantu dengar, dan tidak mengalami gangguan keseimbangan. Klien tidak mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi dan tidak ada kelainan saat berbicara.

Jalan nafas klien tidak bersih ada sumbatan oleh sputum, Klien merasakan sesak pada saat bernafas, klien menggunakan otot batu pernafasan, frekuensi nafas 28 kali/menit, irama tidak teratur dan dalam. Klien batuk, ada sputum, tidak ada nyeri saat bernafas. Pada saat dipalpasi tidak normal. Suara pernafasan ronkhi dan klien tidak menggunakan alat bantu saat bernafas.

Dari sirkulasi perifer, teraba nadi 93 x/ menit, irama teratur dengan denyut terasa kuat. Tekanan darah l20/80 mmHg, tidak ada distensi vena jugularis baik kiri maupun kanan. Temperatur kulit hangat, warna kulit klien pucat, pengisisan kapiler 3 detik. Terdapat edema dibagian kaki. Pada sirkulasi jantung, kecepatan denyut apical klien 80x/menit dengan irama teratur, tidak ditemukan adanya bunyi mur-mur maupun gallop, tidak ada nyeri dada. Klien pucat dan tidak ada tanda-tanda adanya perdarahan. Klien tidak mengeluh adanya sakit kepala baik Vertigo maupun Migrain, kesadaran klien Compos Mentis dengan Glasgow Coma Scale (GCS), Eye : 4 Motorik : 6 dan Verbal : 5. Pada klien juga tidak ditemukan adanya tanda-tanda terjadinya peningkatan tekanan intra kranial (TIK) seperti muntah proyektil, nyeri kepala hebat serta papil edema. Tidak ada gangguan sistem persyarafan seperti kejang, pelo, mulut mencong, disorientasi, polineuritis / kesemutan, serta kelumpuhan. Reflek fisiologis yang dilakukan pada otot bisep dan trisep (Reflek Hamer) klien tampak normal dan reflek patologis tidak ada.

Gigi klien tidak terdapat caries, tidak menggunakan gigi palsu, tidak ada stomatitis, lidah tidak kotor, salifa klien normal, tidak muntah, tidak ada nyeri daerah perut, bising usus klien 20 x/ menit, tidak diare, tidak ada konstipasi, hepar klien tidak teraba, serta abdomen terasa kembung. Pada klien, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada exoptalmus, tremor maupun diaporesis, nafas tidak berbau keton, ada poliuri, tidak ada poliphagi, maupun polidipsi, serta tidak ada luka ganggren.

Perhitungan balance cairan, dimana intake didapat dari minum l500 ml/24 jam, makanan 100 ml/24 jam, infus 500 cc dengan Output melalui urin 900 ml/24 jam, BAB 300ml/24 jam dan IWL sebesar 500 ml/24 jam, sehingga balance cairan klien yaitu Intake – Output = 2100ml-1700 ml = 400  ml/ 24 jam. Tidak ada perubahan pola dalam berkemih seperti retensi, urgency, disuria, tidak lampias, nokturia, inkontinensia maupun anuria. Warna urin kuning jernih, tidak ada distensi/ketegangan kandung kemih, serta tidak ada keluhan sakit pinggang. (Rumus IWL lht lampiran)

Turgor kulit klien tidak elastis, temperatur kulit hangat, warna kulit pucat, keadaan kulit tidak ada lesi. Klien tidak mengalami kelainan kulit. Kondisi kulit daerah pemasangan infus tidak ada kelainan, tekstur dan kebersihan kurang baik. Klien tidak mengalami kesulitan dalam pergerakan. Klien tidak mengalami sakit pada tulang, sendi maupun kulit, tidak ada fraktur, dan tidak ada kelainan bentuk tulang maupun sendi seperti bengkak atau kontraktur. Tidak ada kelainan struktur tulang belakang seperti skoliasis, lordosis, maupun kiposis. Keadaan tonus otot kurang baik, ada hipotoni. Kekuatan otot
5555                5555
                                    5555                5555

Data tambahan tentang pemahaman penyakit :klien mengatakan tidak mengetahui mengapa penyakitnya kambuh lagi, klien juga tidak mengetahui cara perawatan/ pencegahan terhadap penyakitnya serta fungsi minum obat secara lama dan teratur.

Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 7 Juni 2011, didapatkan  Lekosit: 11.800/mm, Limposit: 9%, Segment : 86%, Protein total : 5,9 g/100ml, Albiuin : 4,0 g/dl. 8 Juni 2011 BTA I : tidak ditemukan, 9 Juni 2011 BTA II : Negative, 10 Juni 2011 BTA III: tidak ditemukan.
Resume : Klien bernama Tn. O berjenis kelamin laki-laki, masuk melalui IGD RSUD Kabupaten Bekasi  pada tanggal 06 Juni 2011 pukul ll.00 Wib dengan keluhan sesak nafas, nyeri ulu hati, panas dingin, serta keringat malam. Di IGD klien dilakukan observasi TTV dengan hasil TD : l20/90 mmHg, nadi : 110 x/menit dan suhu : 37ºC, RR : 30x/menit, ves +, Rh +, Wz +, DX medis Bekas TB Paru. Kemudian klien masuk R. Penyakitt Dalam pada jam 16.00 Wib dan ditemukan masalah keperawatan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret, aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pemakaian obat yang terputus, serta kursng pengetahuan klien mengenai penyakitnya berhubungan dengan kurang terpajan informasi. Tindakan keperawatan yang telah diberikan adalah mengawasi TTV, Kaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan   penggunaan otot aksesoris , Anjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah, Berikan pasien posisi semi fowler tinggi, bantu bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam, serta telah diberikan terapy infus RL 20 tetes/menit,serta inhalasi ambivent/ 6jam, inhalasi pulmicort/ 12 jam, ambroxol 3x1. Untuk diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif dan aktivasi ulang infeksi belum teratasi, maka akan melanjutkan intervensi untuk mengatasi masalah.

2.    Asuhan Keperawatan
A. Data Fokus
    Data Subjektif
Klien mengeluh sesak nafas, klien mengatakan dahaknya kental dan sulit untuk dikeluarkan dan klien mengatakan dahak berwarna kuning kental, klien mengatakan pernah sakit seperti ini, klien mengatakan dahulu pernah sesak. klien mengeluh sukar untuk bernafas, klien mengatakan tidak mengetahui mengapa penyakitnya kambuh, klien mengatakan nafsu makan kurang, klien mengatakan menghabiskan ½ porsi yang telah disediakan RS, klien mengatakan BB turun dari 55 kg-50 kg, klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan, pencegahan serta fungsi minum obat yang lama dan teratur.
Data Objektif
Batuk(+), TD : 120/80 mmHg, N: 93x/menit, S: 37C, RR: 28x/menit, menggunakan otot bantu pernafasan yaitu: perut, kedalaman nafas: dalam, Ronkhi(+), Riwayat bekas TB Paru, porsi makan: ½ porsi, tonus otot : kurang baik, integritas kurang elastis, konjungtiva anemis, klien tampak bingung, klien bertanya tentang penyakitnya. Hasil Lab, 7 Juni 2011, didapatkan  Lekosit: 11.800/mm, Limposit: 9%, Segment : 86%, Protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl. 8 Juni 2011 BTA I : tidak ditemukan, 9 Juni 2011 BTA II : Negative, 10 Juni 2011 BTA III: tidak ditemukan, diet ML, Terapi inhalasi.

B. Analisa Data
No
DATA
MASALAH
ETIOLOGI
1
Data Subjektif:
1.  Klien mengeluh sukar bernafas
  2.  Klien mengeluh sesak  
       saat bernafas.
3. Klien mengatakan dahak kental berwarna kuning dan sulit untuk dikeluarkan.
Data objektif:
1. Batuk(+)
2. TD:120/80mmHg, N : 93x/menit,  S: 37C, RR: 28x/menit.
3.  Otot bantu pernafasan: perut
4.  Kedalaman nafas dalam.
5.  Irama tidak teratur.
6.  Bunya nafas : Ronkhi
7.  Terapi inhalasi : ambivent/ 6 jam
Bersihan jalan nafas tidak efektif
Penumpukan Sekret
2
Data Subjektif:
1. Klien mengatakan sebelumnya pernah dirawat dengan sakit yang sama
 2. Klien mengatakan tidak secara teratur minum obat dan berhenti hanya 2 bulan pemakaian / meminum obat.
3. Klien mengatakan pernah sesak nafas
 4. Klien mengatakan sukar untuk  
     bernafas
 5.Klien mengatakan dahaknya kental dan sulit untuk dikeluar- kan.
Data objektif:
 1. Riwayat/Dx Medis : Bekas TB  
Paru
 2. Batuk(+)
 3.TD: 120/mmHG, N: 93x/menit, S: 37C, RR: 28x/menit.
 4. Lekosit : 11.800/mm, Segment : 86%, Limfosit : 9%.
Aktivasi Ulang Infeksi
Pengobatan terputus
3
Data Subjektif:
1. Klien mengatakan nafsu makan kurang baik.
2.  Klien mengatakan menghabiskan  
     ½ porsi yang disediakan oleh RS.
3. Klien mengatakan BB turun dari 55 kg-50 kg.
Data Objektif:
1.  BB: 55 kg-50 kg, BB ideal :  (172-100=72 kg)
2.   Porsi makan: ½ porsi
3. Tonus otot : kurang baik, inte-gritas kurang elastic
4.  Konjungtiva anemis
5.  Protein total : 5,9 g/100ml,  
     Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl
6.  Diet ML                                       

              


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan  tubuh



Intake tidak adekuat
4.
Data Subjektif:
1.   Klien mengatakan tidak 
Mengetahui mengapa penyakit nya kambuh lagi.
2.      Klien mengatakan tidak meng- etahui cara pencegahan/ pera- watan terhadap penyakitnya.
3 Klien mengatakan tidak secara teratur minum obat dan berhenti hanya 2 bulan pemakaian / meminum obat.
4.      Klien mengatakan tidak menge- tahui fungsi dari pengobatan/ meminum obat secara teratur dan lama.
Data Objektif:
1.  Klien bertanya-tanya mengenai  
     penyakitnya.
2.  Klien tampak bingung
Kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan.
Kurang terpajan informasi
         
      C. Diagnosa Keperawatan
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret.
Tanggal ditemukan : 11 Juni 2011
Tanggal teratasi       : Belum teratasi
2.      Aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus.
Tanggal ditemukan : 11 Juni 2011
Tanggal teratasi       : Belum teratasi
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak  adekuat.
Tanggal ditemukan : 11 Juni 2011
Tanggal teratasi       : belum teratasi
4.      Kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi.
Tanggal ditemukan : 11 Juni 2011
Tanggal teratasi       : 13 Juni 2011

      D. Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret, ditandai  dengan :
Data subjektif:  Klien mengeluh sukar bernafas, klien mengeluh sesak saat bernafas, klien mengatakan dahak berwarna kuning kental dan sulit untuk dikeluarkan.
Data objektif:   Batuk(+), TD: 120/80 mmHg, N : 93x/menit, S: 37C, RR: 28x/menit, otot bantu pernafasan: perut, kedalaman nafas dalam, irama tidak teratur, bunyi nafas : Ronkhi, Terapi inhalasi ambivent/ 6 jam.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 Jam diharapkan bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria Hasil :
1.      Memperhankan jalan nafas klien.
2.      Mengeluarkan sekret tanpa bantuan,
3.      Frekuensi pernafasan: 20x/menit, bunyi nafas normal, kedalaman dan irama normal.  
4.      Tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
Intervensi :
Mandiri
1.    Kaji fungsi pernafasan, contoh : frekuensi pernafasan,  bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan     penggunaan otot aksesoris.
2.    Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ bentuk afektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
3.    Ajarkan batuk efektif dan teknik nafas dalam.
4.    Berikan pasien posisi semi fowler tinggi, bantu bantu pasien untuk batuk dan latihan  nafas dalam.   
5.    Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
Kolaborasi
6.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi inhalasi.

Implementasi
Sabtu, 11 Juni 2011
Pukul 11.00 Wib mengkaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesoris, Respon hasil : Bunyi nafas Ronkhi, Frekuensi 28x/menit, itrama tidak teratur, kedalaman nafas dalam, penggunaan otot bantu pernafasan yaitu perut. Pukul 11.10 Wib mencatat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ bentuk afektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis, Respon Hasil : klien tidak mampu mengeluarkan sekret. Pukul 11.20 Wib mengajarkan batuk efektif dan teknik nafas dalam, Respon Hasil : klien melakukan teknik nafas dalam dan batuk efektif. Pukul 12.00 Wib memberikan pasien posisi semi fowler tinggi, Respon klien: Posisi klien semi fowler. Pukul 12.10 Wib mempertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi, Respon klien: klien minum 1500 ml/hari.

Evaluasi
Minggu, 12 Juni 2011
S: Klien mengatakan masih sukar untuk bernafas, klien mengeluh masih sesak, klien mengatakan dahak masih susah untuk dikeluarkan.
O: TD: 120/90 mmHg, N : 86x/menit, S; 36,8C, RR : 30x/menit, Batuk(+), Nafas dalam.
A:Tujuan belum tercapai, masalah bersihan jalan nafas belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,6

Implementasi
Minggu, 12 Juni 2011
Pukul 08.00 Wib mengkaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot aksesoris, Respon hasil : Bunyi nafas Ronkhi, Frekuensi 28x/menit, itrama tidak teratur, kedalaman nafas dalam, penggunaan otot bantu pernafasan yaitu perut. Pukul 08.10 Wib mencatat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ bentuk afektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis, Respon hasil : klien tidak mampu mengeluarkan sekret. Pukul 13.00 Wib mengajarkan batuk efektif dan teknik nafas dalam, Respon Hasil : klien melakukan teknik nafas dalam dan batuk efektif. Pukul 13.00 Wib memberikan pasien posisi semi fowler tinggi, Respon klien: Posisi klien semi fowler. Pukul 09.00 Wib mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi inhalasi, Respon hasil : Inhalasi Ambivent/6 jam.

Evaluasi
Senin, 13 Juni 2011
S:  Klien mengatakan masih sesak berkurang pada saat bernafas, klien mengatakan dahak masih sulit untuk dikeluarkan.
O: RR: 28x/menit, Batuk(+), Nafas dalam, Ronkhi(-),
A: Tujuan tercapai sebagian, masalah bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi 1,2,3,6.

  2. Aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus, ditandai dengan :
Data Subjektif:  Klien mengatakan sebelumnya pernah dirawat dengan sakit yang sama, klien mengatakan tidak secara teratur minum obat dan berhenti hanya 3 bulan pemakaian/meminum obat, klien mengatakan pernah sesak nafas, klien mengatakan sukar untuk bernafas, klien mengatakan dahaknya kental dan sulit untuk dikeluarkan
Data objektif:    Riwayat/Dx Medis : Bekas TB Paru, batuk(+), TD: 120/mmHG, N: 93x/menit, S: 37C, RR: 28x/menit, lekosit : 11.800/mm, Segment : 86%, Limfosit : 9%.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi penyebaran infeksi.
Kriteria hasil :  
1.       Mengidentifikasi intrervensi untuk mencegah menurunkan resiko penyebaran infeksi
2.       Nilai Lab dalam rentang normal. ( Lekosit : 3.500- 10.000 mm, Limfosit: 17-48%


Intervensi
Mandiri
1.    Kaji patologi penyakit(aktif atau fase tidak aktif)
2.    Identivikasi orang lain yang beresiko, contoh : angota rumah, sahabat karib atau teman
3.    Anjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah.
4.    Awasi suhu sesuai indikasi
5.    Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis, contoh Tahanan bawah(alkoholisme, malnutrisi, bedah bypass intestinal); gunakan obat penekan imun.
6.    Tekanan pentingnya tidak menghentikan teraphi obat
Kolaborasi
7.    Berikan terapi injeksi sesuai indikasi
8.    Awasi pemeriksaan laboratorium

Implementasi
Sabtu, 11 Juni 2011
Pukul 11.00 Wib mengkaji patologi penyakit(aktif atau fase tidak aktif), Respon klien : Penyakit klien pada fase tidak aktif. Pukul 11.10 Wib mengidentifikasi orang lain yang beresiko, contoh : angota rumah, sahabat karib atau teman, Respon hasil : Keluarga(anak) menjadi orang lain yang beresiko. Pukul 11.15 Wib menganjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah, Respon klien : klien menaati dengan meludah/batuk menggunakan tissue. Pukul 12.00 Wib mengawasi suhu sesuai indikasi, Respon hasil : S: 37C. Pukul 13.00 Wib mengidentifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis, contoh tahanan bawah (alkoholisme, malnutrisi, bedah bypass intestinal); gunakan obat penekan imun. Pukul 13.10 Wib menekankan pentingnya tidak menghentikan teraphi obat, Respon hasil: klien menerima informasi. Pukul 13.15 Wib memberikan terapi injeksi sesuai indikasi, Respon hasil: Ceftriaxone 1x2 amp. Pukul 14.00 Wib mengawasi pemeriksaan laboratorium, Respon hasil : lekosit : 11.800/mm, Segment : 86%, Limfosit : 9%.

Evaluasi
Minggu, 12 Juni 2011
S : Klien mengatakan masih sesak saat bernafas dan dahak masih sulit untuk dikeluarkan.
O : Riwayat Bekas TB, Batuk(+), Ronkhi(+), S: 37C, RR:28x/menit, Lekosit : 11800/mm, Segmen: 86%, Limposit 9%
A : Tujuan belum tercapai, masalah aktivasi ulang infeksi belum teratasi.
P  : Lanjutkan intervensi 3,4,7,8.

Implementasi
Minggu, 12 Juni 2011
Pukul 09.10 Wib menganjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah, Respon klien : klien menaati dengan meludah/batuk menggunakan tissue. Pukul 12.00 Wib mengawasi suhu sesuai indikasi, Respon hasil : S: 37C. Pukul 13.00 Wib memberikan terapi injeksi sesuai indikasi, Respon hasil: Ceftriaxone 2x2 amp. Pukul 13.20 Wib mengawasi pemeriksaan laboratorium, Respon hasil : lekosit : 11.800/mm, Segment : 86%, Limfosit : 9%.

Evaluasi
Senin, 13 Juni 2011
S : Klien mengatakan masih sesak saat bernafas dan dahak masih sulit untuk dikeluarkan.
O :Riwayat Bekas TB, Batuk(+), Ronkhi(-), S: 37C, RR:28x/menit, Lekosit : 11800/mm, Segmen: 86%, Limposit 9%
A : Tujuan belum tercapai, masalah aktivasi ulang infeksi teratasi sebagian.
P : Lanjutkan intervensi 4,7,8.

  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat, ditandai dengan:
Data Subjektif: Klien mengatakan nafsu makan kurang baik, klien mengatakan menghabiskan ½ porsi yang disediakan oleh RS, klien mengatakan BB turun dari 55 kg-50 kg.
Data Objektif: BB: 55 kg-50 kg, BB ideal : (172-100=72 kg), porsi makan: ½ porsi, tonus otot : kurang baik. Turgor kulit tidak elastis, konjungtiva anemis, protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1.      Menunjukan berat badan meningkatkan
2.      Nilai laboratorium normal, Protein total :6,6-8,7 g/100 ml, Albumin: 3,4-4,8 g/dl, Hb: 13-15 g/dl.
3.      Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan  dan mempertahankan berat yang tepat. 
Intervensi
Mandiri
1.      Catat status nutrisi pasien, catat turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral,  kemampuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare.
2.      Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai/ tak disukai
3.      Awasi masukan/pengeluaran dan BB secara periodik
4.      Selidiki anoresia, mual, muntah, catat kemungkinan hubungan dengan obat. Awasi frekuensi volume, konsistensi feses.
5.      Dorong dan berikan periode istirahat sering
6.      Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Kolaborasi
7.      Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
8.      Awasi pemeriksaan laboratorium, BUN, protein serum dan albumin.

Implementasi
Sabtu, 11 Juni 2011
Pukul 11.20 Wib mencatat status nutrisi pasien, catat turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare, Respon hasil : nafsu makan pasien kurang baik, berat badan 50 kg, turgor kulit tidak elastis, tidak ada mual,muntah/ diare. Pukul 11.25 Wib memastikan pola diet biasa pasien, yang disukai/ tak disukai, Respon hasil : Klien mendapat diet ML. Pukul 12.10 Wib mengawasi masukan/ pengeluaran dan BB secara periodik, Respon hasil: Porsi ½ porsi dihabiskan, output BAB 1x/hari, Pukul 12.15 Wib menyelidiki anoresia, mual, muntah, catat kemungkinan hubungan dengan obat, Respon hasil: Tidak ada mual dan muntah. Pukul 12.20 Wib mendorong dan berikan periode istirahat sering, Respon hasil : Klien istirahat, Pukul 12.25 Wib mendorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat, Respon hasil : Klien mematuhi, Pukul 13.00 Wib merujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet, Respon hasil :Klien mendapatkan diet ML, Pukul 13.40 Wib mengawasi pemeriksaan laboratorium, BUN, protein serum dan albumin, Respon hasil: protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl.       

Evaluasi
Minggu, 12 Juni 2011
S: Klien mengatakan nafsu makan masih berkurang, porsi dihabiskan ½ porsi.
O: Porsi yang dihabiskan ½ porsi, BB 55kg-50 kg, tonus otot kurang baik, turgor tidak elastis,  protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl   
A: Tujuan belum tercapai, masalah belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi 3,5,6,8.

Implementasi
Minggu, 12 Mei 2011
Pukul 08.40 mengawasi masukan/pengeluaran dan BB secara periodik, Respon hasil: Porsi ½ porsi dihabiskan, output BAB 1x/hari, Pukul 09.00 Wib mendorong dan berikan periode istirahat sering, Respon hasil : Klien istirahat, Pukul 12.00 Wib mendorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat, Respon hasil : Klien mematuhi, Pukul 13.00 Wib mengawasi pemeriksaan laboratorium, BUN, protein serum dan albumin, Respon hasil : protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl.

Evaluasi
Senin, 13 Juni 2011
S: Klien mengatakan nafsu makan masih berkurang, porsi dihabiskan 1 porsi.
O: Porsi yang dihabiskan 1 porsi, BB 55kg-50 kg, tonus otot kurang baik, turgor tidak elastis,  protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl   
A: Tujuan tercapai sebagian, masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi 3,5,8.





 4. Kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan     berhubungan dengan kurang terpajan informasi, ditandai dengan:
Data Subjektif:  Klien mengatakan tidak mengetahui  mengapa penyakitnya kambuh lagi, klien mengatakan tidak mengetahui cara pencegahan/ perawatan terhadap penyakitnya, klien mengatakan tidak mengetahui fungsi dari pengobatan/ meminum obat secara teratur dan lama.
Data Objektif:   Klien bertanya-tanya mengenai penyakitnya, klien tampak bingung
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan meningkatkan pengetahuan klien.
  Kriteria Hasil :
1.      Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis, kebutuhan pengobatan.
2.      Melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan, menurunkan resiko pengaktifan ulang TB.
Intervensi
Mandiri
1.         Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan
2.         Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan  pemasukan cairan adekuat.
3.         Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama.
4.         Kaji potensial efek samping pengobatan.
5.         Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah.
6.         Kaji bagaimana TB ditularkan.



Implementasi
Sabtu, 11 Mei 2011
Pukul 12.00 Wib Mengkaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan, Respon hasil: klien menyatakan tidak mengetahui penyebab penyakit kambuh. Pukul 12.10 Wib menekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat, Respon hasil: infromasi tersampaikan, Pukul 12.15 Wib menjelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama, Respon hasil: informasi tersampaikan dan diterima oleh klien. Pukul 12.20 Wib mengkaji potensial efek samping pengobatan, Respon hasil: informasi tersampaikan, Pukul 12.25 Wib mendorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah, Respon hasil : putera klien menyatakan masalahnya. Pukul 12.30 Wib mengkaji bagaimana TB ditularkan, Respon hasil: klien tampak mengerti atas informasi yang diberikan.

Evaluasi
Minggu,12 Juni 2011
S: Klien mengatakan sudah mengetahui penyebab, cara pencegahan serta manfaat dari pengobatan lama dan rutin.
O: Klien tampak tenang
A: Tujuan tercapai sebagian, masalah kurang pengetahuan tercapai sebagian.
P: Lanjutkan intervensi 2 dan 3.

Implementasi
Minggu, 12 Juni 2011
Pukul 08.30 Wib menekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat, Respon hasil: infromasi tersampaikan, Pukul 08.35 Wib menjelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama, Respon hasil: informasi tersampaikan dan diterima oleh klien.

Evaluasi
Senin, 13 Juni 2011
S: Klien mengatakan sudah mengetahui penyebab, cara pencegahan serta manfaat dari pengobatan lama dan rutin, klien mengatakan akan merubah pola hidup serta mematuhi peraturan pengobatan dalam meningkatkan kesehatan.
O: Klien tampak tenang.
A: Tujuan tercapai, masalah kurang pengetahuan tercapai.
P: Lanjutkan intervensi.


















BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn.O dengan Tuberkulosis Paru, di ruang Penyakit Dalam, RSUD Kabupaten Bekasi. Maka pada bab ini penulis akan menguraikan kesenjangan antara teori dengan kasus. Adapun Pembahasan ini sesuai dengan tahapan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan, Pelaksanaan dan Evaluasi.

A.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang dilakukan dimana penulis berusaha mengkaji klien secara menyeluruh melalui aspek bio-psiko-sosial-spiritual. Hasil pengkajian berupa data dasar, data khusus, data penunjang, pemeriksaan fisik, membaca catatan medik dan catatan keperawatan.

Pada tahap pengkajian ada kesenjangan antara teori dan kasus. Pada kasus klien tidak mengetahui penyebab terulang terjadinya Tuberkulosis Paru, sedangkan pada teori etiologi dari Tuberkulosis adalah Mycobakterium tuberculosis. Pada tanda dan gejala terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Pada teori terdapat tanda: Batuk-batuk dengan atau tanpa sputum lebih dari 2 minggu, malaise (ketidaknyamanan), gejala flu, nyeri dada, batuk darah, demam malam hari dan pagi hari, keringat malam, hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan sedangkan Pada kasus tidak terdapat tanda batuk berdarah dan nyeri dada.

Penatalaksanaan medis terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus. Dalam teori pada test dignostik yaitu Kultur sputum, Ziehl-Neelsen, Tes kulit (PPD, Mantoux, potongan vollmer), ELISA/western Blot, Foto torak, Histologi atau kultur jaringan termasuk pembersihan gaster Biopsi jarum pada jaringan paru, GDA, Pemeriksaan fungsi paru. Sedangkan pada kasus klien hanya mendapatkan pemeriksaan Rontgen, pemeriksaan BTA dan Pemeriksaan Darah Lengkap. Pada pemberian terapi dalam teori pada Tuberkulosis Paru adalah  DAT (obat anti TB): INH isonosid), rifampisin ( R ), para sinamid ( z ), streptomoisin (S), etambatol ( E ), 10-20 mg/kg/hri selama 18 s/d 24 bulan, Konversi sputum positif menjadi negative. Dalam kasus klien hanya mendapatkan terapi inhalasi ambivent/6 jam, inhalasi pulmicort/ 12 jam.

Faktor pendukung tersedia buku referensi yang mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini, serta saat pengkajian yaitu klien sangat kooperatif, sedangkan faktor penghambat yang penulis temukan adalah penulis masih belum mampu melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh (Head to toe) tanpa melihat buku panduan pemeriksaan fisik. Untuk mengatasi masalah ini penulis menggunakan beberapa buah buku panduan yang selalu dibawa ketika melakukan pemeriksaan fisik.

B.   Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan teori yang penulis temukan dibuku Marilynn E. Doenges (2000), terdapat 5 diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien dengan Tuberkulosis Paru, yaitu : Infeksi, resiko tinggi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat/ penurunan kerja silia/ statis, Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret darah/ kelemahan/ upaya batuk buruk, Pertukaran gas/ kerusakan yang berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru/ sekret kental , Nutrisi, perubahan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan/ sering batuk/produksi sputum, dispnea anoreksia, Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kongnitif tidak akurat/tidak lengkap informasi yang ada. Namun pada kasus penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan, yaitu: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret, Aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat, Kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi.
Terdapat kesenjangan antara teori dan kasus, jika diteori terdapat 5 diagnosa keperawatan, tetapi dikasus terdapat 4 diagnosa keperawatan. Pada kasus ditegakan bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret, karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data klien mengeluh sukar bernafas, klien mengeluh sesak saat bernafas, klien mengatakan dahak kental dan berwarna kuning dan sulit untuk dikeluarkan, batuk(+), RR: 28x/menit, sekret berwarna kuning dengan konsistensi kental, otot bantu pernafasan: perut, kedalaman nafas dalam, irama tidak teratur, bunyi nafas : Ronkhi, Aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus, karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data Klien mengatakan sebelumnya pernah dirawat dengan sakit yang sama, klien mengatakan tidak secara teratur minum obat dan berhenti hanya 2 bulan pemakaian/meminum obat, klien mengatakan pernah sesak nafas, klien mengatakan sukar untuk bernafas, klien mengatakan dahaknya kental dan sulit untuk dikeluarkan, riwayat/Dx Medis : Bekas TB Paru, batuk(+), TD: 120/mmHG, N: 93x/menit, S: 37C, RR: 28x/menit, lekosit : 11.800/mm, Segment : 86%, Limfosit : 9%, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat, karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data klien mengatakan nafsu makan kurang baik, klien mengatakan menghabiskan ½ porsi yang disediakan oleh RS, klien mengatakan BB turun dari 55 kg-50 kg, tonus otot : kurang baik. Turgor kulit tidak elastis, konjungtiva anemis, protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl, Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan informasi, karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data klien mengatakan tidak mengetahui  mengapa penyakitnya kambuh lagi, klien mengatakan tidak mengetahui cara pencegahan/ perawatan terhadap penyakitnya, klien mengatakan tidak mengetahui fungsi dari pengobatan/ meminum obat secara teratur dan lama, klien bertanya-tanya mengenai penyakitnya, klien tampak bingung.

Diagnosa keperawatan yang terdapat pada teori dan tidak terdapat pada kasus adalah petukaran gas/kerusakan/resiko tinggi berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, sekret kental, karena tidak didapatkan data adanya perubahan frekuensi nadi dari nilai normal, tidak ada ortopnea, takipnea, hiperpnea, hiperventilasi, pernafasan disritmik, tidak ada sianosis/perubahan pada warna kulit, dan pada saat dilakukan pengkajian tidak ada terapi O2 yang digunakan serta tidak adanya data penunjang yaitu pemeriksaan GDA untuk merumuskan diagnosa tersebut.

Dalam menggangkat diagnosa, faktor pendukung yang penulis temukan adalah diagnosa tersebut sudah terdapat dalam buku Marilynn E. Doenges, sehingga mempermudah dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.

C.   Perencanaan Keperawatan
Setelah masalah keperawatan dapat diterapkan, maka perlu penetapan rencana keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan tersebut. kegiatan perencanaan ini meliputi: memprioritaskan masalah, merumuskan tujuan, kriteria hasil serta tindakan.

Dalam perencanaan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus dalam memprioritaskan masalah, merumuskan masalah, merumuskan tujuan, kriteria hasil serta tindakan. Penulis berusaha memprioritaskan berdasarkan kebutuhan menurut Maslow yaitu mulai dari kebutuhan paling mendasar  yaitu kebutuhan fisologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, dihargai, serta aktualisasi diri. Perumusan tujuan pada asuhan keperawatan berdasarkan pada metode SMART(spesik, measurable, asureble, reality and time) yaitu secara spesifik dapat diukur maupun diatasi dengan tindakan keperawatan.

Faktor pendukung terdapat kerjasama yang baik dalam perencanaan antara mahasiswi dan perawat ruangan. Faktor penghambat dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan karena kurang pahamnya penulis dalam membuat rencana tindakan dalam kasus ini, pemecahan masalah lebih giat lagi membaca agar dapat menetapkan masalah sesuai dengan rencana.

D.   Pelaksanaan
Dalam rencana tindakan tidak semua dilaksanakan oleh penulis, dikarenakan penulis tidak sepenuhnya 24 jam merawat klien, namun sebagai solusi penulis mendelegasikan rencana tindakan tersebut kepada perawat ruangan. Untuk melihat tindakan yang dilakukan perawat ruangan, penulis melihat dan membaca di buku laporan tindakan yang ditulis oleh perawat yang berdinas. Tindakan keperawatan dilakukan sesuai waktu yang telah di tetapkan yaitu 3 x 24 jam, secara umum semua rencana tindakan yang telah disusun dapat dilaksanakan penulis, seperti mengobservasi tanda tanda vital, mengkaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan   penggunaan otot aksesoris , menganjurkan pasien untuk batuk / bersin mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah, memberikan pasien posisi semi fowler tinggi, membantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam, memberikan terapy infus RL 20 tetes/menit, serta  memberi inhalasi ambivent/ 6jam, inhalasi pulmicort/ 12 jam, mencatat status nutrisi pasien, catat turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare, mengawasi masukan/pengeluaran dan BB secara periodik, mendorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat, merujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet, Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat, menjelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama, mendorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah, mengkaji bagaimana TB ditularkan, melakukan kerjasama dengan tim medis lain dalam pemberian obat-obatan dan diet.

Faktor pendukung dalam pelaksanaan tindakan keperawatan adalah klien sangat koopertif dan kerjasama yang baik antar penulis dengan perawat ruangan, sedangkan faktor penghambat yang penulis temukan adalah kurangnya alat-alat kesehatan sehingga penulis mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan tindakan sesuai dengan teori. Solusi yang penulis lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah penulis tetap menggunakan alat-alat medis yang tersedia tetapi tetap mempertahankan prinsip sesuai teori. Yang menjadi faktor penghambat juga, perawat ruangan melakukan tindakan kurang  sesuai dengan teori, begitu juga dalam pencatatan dalam buku perkembangan klien, untuk solusinya penulis menanyakan kepada perawat lain yang masih ingat apa yang dilakukan pada saat dinas.

E.   Evaluasi
Pada tahap evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang digunakan untuk menilai keberhasilan asuhan keperawatan atas tindakan yang diberikan. Pada teori maupun kasus dalam membuat evaluasi disusun berdasarkan tujuan dan kriteria hasil yang ingin dicapai. Dimana pada kasus penulis melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan yang dilakukan selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 11 Juni 2011 sampai 13 Juni 2011. Ketiga masalah belum teratasi sebagian, pada diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret, masih ditemukan data data : Klien mengatakan masih sesak berkurang pada saat bernafas, klien mengatakan dahak masih sulit untuk dikeluarkan, RR: 28x/menit, Batuk(+), nafas dalam, ronkhi(-), Aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus masih ditemukan data: Klien mengatakan masih sesak saat bernafas dan dahak masih sulit untuk dikeluarkan, riwayat Bekas TB, Batuk(+), Ronkhi(-), S: 37C, RR:28x/menit, Lekosit : 11800/mm, Segmen: 86%, Limposit 9%, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat masih ditemukan data: Klien mengatakan nafsu makan masih berkurang, porsi dihabiskan 1 porsi, BB 55kg-50 kg, tonus otot kurang baik, turgor tidak elastis,  protein total : 5,9 g/100ml, Albumin : 4,0 g/dl, Hb : 14,1 g/dl, namun untuk masalah kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan tujuan tercapai dan masalah teratasi, dimana perubahan menuju yang lebih baik belum signifikan.

Dalam melakukan evaluasi, adapun faktor pendukung adalah kerjasama yang baik antara penulis dengan perawat ruangan, penulis tidak menemukan adanya faktor penghambat, ini dikarenakan klien sangat kooperatif.


























BAB V
PENUTUP

Pada BAB ini penulis akan menyimpulkan beberapa hal penting yang harus diperhatikan serta saran-saran yang bermanfaat bagi pihak dalam melakukan Asuhan Keperawatan pada Tn.O dengan Tuberkulosis Paru di Ruang Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Bekasi.

A.     Kesimpulan
Pada tahap pengkajian terdapat kesenjangan antara teori dan kasus antara etiologi dan  menifestasi klinis. Pada Tanda dan gejala terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Pada teori terdapat tanda dan gejala batuk berdarah dan nyeri dada sedangkan pada kasus tidak muncul Pada diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan antara teori dan kasus, jika pada teori dalam buku Marilynn  E. Doenges terdapat 5 diagnosa keperawatan, namun pada kasus penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan yang terdapat pada teori dan tidak terdapat pada kasus adalah petukaran gas/kerusakan/resiko tinggi berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, sekret kental.

Dalam perencanaan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus, penulis berusaha memprioritaskan berdasarkan kebutuhan menurut Maslow mulai dari kebutuhan fisologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, dihargai, serta aktualisasi diri. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret sebagai prioritas utama, aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus sebagai masalah kedua, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat sebagai masalah ketiga, kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi sebagai masalah keempat. Pada tujuan dan kriteria hasil penulis menggunakan metode Spesifik, Measurable, Aktual, Reliable, dan Time (SMART) dalam melaksanakan tindakan keperawatan dan ini disesuaikan dengan teori yang digunakan.

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, penulis menyesuaikan dengan kondisi klien dan pelaksanaan tersebut dilakukan selama 3 x 24 jam. Untuk melaksanakan tindakan yang belum penulis laksanakan, penulis melakukan kerjasama dengan perawat ruangan dan mendelegasikan tindakan tersebut pada perawat yang sedang berdinas.

Pada 4 diagnosa yang penulis angkat, ketiga diagnosa tersebut belum teratasi sebagian dan satu diagnosa sudah teratasi sesuai waktu yang ditetapkan, Ketiga masalah belum teratasi sebagian, pada diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret, aktivasi ulang infeksi berhubungan dengan pengobatan terputus, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat, tujuan tercapai sebagian, namun untuk diagnosa  kurang pengetahuan klien mengenai kondisi, aturan tindakan, pencegahan, dan  pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi. Supaya semua masalah teratasi, penulis mendelegasikan rencana tindakan yang telah disusun kepada perawat ruangan.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas,maka penulis memberikan saran sebagi berikut:
1. Untuk Rumah Sakit
Rumah sakit hendaknya mempertahankan atau bahkan meningkatkan kinerja yang telah bagus, dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, meningkatkan lagi peralatan yang ada diruangan.
2. Untuk Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan, hendaknya menambah literature yang ada diperpustakaan, dengan literature yang masih tergolong terbitan baru, sehingga peserta didik tidak kesulitan saat mencari literature.

3. Untuk Perawat
Hendaknya mencantumkan atau mencatat apa tindakan-tindakan yang dilakukan tentunya yang berkaitan dengan teori, sehingga akan mempermudah perawat lain yang ingin menerapkan sesuai teori tersebut, dan hendaknya penyuluhan kesehatan dijadikan suatu program diruangan guna meningkatkan pengetahuan klien tentang penyakitnya dan dapat mencegah komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi.
4.  Untuk Mahasiswa
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan dan dapat melakukan pengkajian dengan benar sesuai dengan konsep dasar dengan Tuberkulosis Paru. Selalu berdiskusi dengan teman-teman sejawat dan pembimbing bila mengalami kesulitan.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar